Hama Tanaman

Posted on November 16, 2009

0



Penggerek Buah Kakao (PBK)

Conopomorpha cramerella

Yang diserang adalah buah kakao yang berukuran panjang 8 cm, dengan gejala masak awal, yaitu belang kuning hijau atau kuning jingga dan terdapat lubang gerekan bekas keluar larva. Pada saat buah dibelah biji-biji saling melekat dan berwarna kehitaman, biji tidak berkembang dan ukurannya menjadi lebih kecil. Selain itu buah jika digoyang tidak berbunyi. Pengendaliannya dilakukan dengan : (1) karantina; yaitu dengan mencegah masuknya bahan tanaman kakao dari daerah terserang PBK; 2) pemangkasan bentuk dengan membatasi tinggi tajuk tanaman maksimum 4m sehingga memudahkan saat pengendalian dan panen; (3) mengatur cara panen, yaitu dengan melakukan panen sesering mungkin (7 hari sekali) lalu buah dimasukkan dalam karung sedangkan kulit buah dan sisa-sisa panen dibenam; (4) penyelubungan buah (kondomisasi), caranya dengan mengguna-kan kantong plastik dan cara ini dapat menekan serangan 95-100 %. Selain itu sistem ini dapat juga mencegah serangan hama helopeltis dan tikus.; (5) cara kimiawi: dengan Deltametrin (Decis 2,5 EC), Sihalotrin (Matador 25 EC), Buldok 25 EC dengan volume semprot 250 l/ha dan frekuensi 10 hari sekali.

Kepik penghisap buah (Helopeltis spp)

Yang diserang adalah buah kakao. Buah kakao yang terserang tampak bercak-bercak cekung berwarna coklat kehitaman dengan ukuran bercak relatif kecil (2-3 mm) dan letaknya cenderung di ujung buah. Serangan pada buah muda menyebabkan buah kering dan mati, tetapi jika buah tumbuh terus, permukaan kulit buah retak dan terjadi perubahan bentuk. Bila serangan pada pucuk atau ranting menyebabkan daun layu, gugur kemudian ranting layu mengering dan meranggas. Pengendalian yang efektif dan efisien sampai saat ini dengan insektisida pada areal yang terbatas yaitu bila serangan helopeltis <15 % sedangkan bila serangan >15% penyemprot-an dilakukan secara menyeluruh. Selain itu hama helopeltis juga dapat dikendalikan secara biologis, menggunakan semut hitam. Sarang semut dibuat dari daun kakao kering atau daun kelapa diletakkan di atas jorket dan diolesi gula.

Hama Mite

Daun yang  baru tumbuh rentan terhadap serangan hama penghisap daun berupa mite. Hama mite akan terus menyerang selama tanaman tersebut masih berbentuk tunas daun pada titik tumbuh dan daun yang belum berkembang sempurna. Mite akan menyerang tanaman jarak pagar sejak awal musim hujan, dan serangan meningkat seiring berkurangnya hujan di musim kemarau.

Hama penghisap mite akan berkembang dan menyebar lebih cepat di musim kemarau. Dengan bantuan angin mite akan lebih cepat menyebar ke tanaman lain. Pengunaan akarasida untuk menanggulangi serangan mite masih kurang memuaskan. Hal tersebut ditunjukkan adanya gejala serangan dengan tingkat serangan yang sama pada hari ke lima setelah penyemprotan. Jarak pagar akan berhasil dengan baik apabila pengendalian hama penghisap daun mite dilakukan secara tepat waktu, tepat sasaran, dan tepat pemilihan pestisida yang digunakan.

Serangan mite terhadap daun yang baru tumbuh

Gejala serangan mite terhadap daun yang baru tumbuh

Hama Embun Upas

Hama ini menyerang daun serta batang tanaman melon. Akibat yang ditimbulkan adalah batang tanaman melon layu dan tak lama kemudian mati mongering.

Hama Krepes

Hama ini hanya menyerang tanaman jamur kuping. Serangan datang sebelum miselia tumbuh. Memang pada mulanya permukaan jamur yang diserang. Namun, lama-kelamaan hama merasuk ke dalam baglog. Jamur pun gagal tumbuh. Bila tumbuhpun ukurannya amat kecil dan teksturnya keras.

Meledaknya populasi krepes karena lingkungan kumbung yang dan cara produksi yang kurang bersih. Walaupun peralatannya steril tapi tangan yang kotor bisa menyebabkan serangan serangga yang spesiesnya belum teridentifikasi ini merusak jamur kuping. Setelah melakukan sterilisasi, tangan pekebun biasanya langsung dilap dengan kain kering. Dari kain kering itulah krepes menyebar.

Kondisi lingkungan terlalu lembab dan kaya bahan organic seperti kayu lapuk dan tumpukan bekas media menjadi sarang krepes. Guyuran hujan mendorong tungau masuk ke kumbung. Di rumah tanam jamur itu tungau leluasa hidup dan berkembang biak. Pada dasarnya krepes takut air. Oleh karena itu jamur yang terserang cukup disemprot dengan air maka krepes muda berukuran 0,5 mm mati. Namun krepes dewasa berukuran 2 mm tetap bertahan.

Kutu Daun

Kutu daun menyerang tunas muda cabai secara bergerombol. Daun yang terserang akan mengerut dan melingkar. Cairan manis yang dikeluarkan kutu, membuat semut dan embun jelaga berdatangan. Embun jelaga yang hitam ini sering menjadi tanda tak langsung serangan kutu daun. Pengendalian kutu daun (Myzus persicae Sulz.) dengan memberikan Furadan 3 G sebanyak 60-90 kg/ha atau sekitar 2 sendok makan/10 m2 area. Apabila tanaman sudah tumbuh semprotkan Curacron 500 EC, Nudrin 215 WSC, atau Tokuthion 500 EC. Dosisnya 2 ml/liter air.

Hama Trips

Serangan hama trips amat berbahaya bagi tanaman cabai dan bawang putih, karena hama ini juga vektor pembawa virus keriting daun. Gejala serangannya berupa bercak-bercak putih di daun karena hama ini mengisap cairan daun tersebut. Bercak tersebut berubah menjadi kecokelatan dan mematikan daun. Serangan berat ditandai dengan keritingnya daun dan tunas. Daun menggulung dan sering timbul benjolan seperti tumor. Hama trips (Thrips tabaci) dapat dicegah dengan banyak cara. Pemakaian mulsa jerami, pergiliran tanaman, penyiangan gulma atau rumputan pengganggu, dan menggenangi lahan dengan air selama beberapa waktu. Pemberian Furadan 3 G pada waktu tanam seperti pada pencegahan kutu daun mampu mencegah serangan hama trip juga. Akan tetapi, untuk tanaman yang sudah cukup besar, dapat disemprot dengan Nogos 50 EC, Azodrin 15 WSC, Nuracron 20 WSC, dosisnya 2-3 cc/1.

Ulat Daun

Serangan hama ini ditandai dengan adanya bekas gigitan pada bagian ujung dan pinggir daun. Ulat ini umumnya menyerang tanaman yang masih muda. Ciri khas ulat ini adalah; pada ruas perutnya yang keempat dan kesepuluh terdapat bentuk bulan sabit berwarna hitam dan dibatasi garis kuning pada samping dan punggungnya.

Ulat ini dapat diberantas secara mekanis. Telur ulat yang baru menetas diambil bersama daun yang ditempelinya. Pengambilan dilakukan sesegera mungkin karena pertumbuhan ulat ini cepat dan dapat bersembunyi di dalam tanah. Pemberantasan secara kimia dapat dilakukan dengan Azodrin 15 WSC dengan dosis 3-4 cc/l air. Volume penymprotan 400-600 l/ha.

Ulat Grayak

Serangan hama ini mengakibatkan daun tampak terkulai seperti layu, berwarna putih. Bagian daun yang diserang adalah bagian dalam, yang ditinggalakan hanya lapisan epidermis sehingga daun tampak seperti membran. Ulat ini berwarna hijau kemudian berubah menjadi cokelat tua dengan garis- garis putih. Ulat ini dapat mencapai ukuran kurang lebih 2,5 cm. Satu generasi ulat berumur kurang dari 23 hari. Jumlah telurnya dapat mencapi 1000 butir. Telur diletakkan berkelompok berbentuk lonjong atau bulat. Warnanya putih dan tertutupi oleh bulu-bulu tipis. Setelah menetas ulat-ulat itu masuk ke dalam daun melalui ujung daun. Perkembangan ulat di dalam daun kurang lebih 9-14 hari.

Hama ini dapat terkendali jika dilakukan pergiliran tanaman. Pemberantasan secara mekanis dapat dilakukan dengan mengumpulkan dan memusnahkan telur yang terdapat pada ujung daun. Secara kimia hama ini dapat diberantas dengan insektisida, misalnya Azodrin 15 WSC. Dosis yang digunakan 3-4 cc/l air dengan volume penyemprotan 400-600 l/ha.

Agrotis interjectionis Gn

Umumnya tanaman yang diserang adalah tanaman yang masih muda. Akibatnya, tanaman menjadi rebah karena hama ini memotong bagian leher umbi, kadang kadang juga memakan daun bawang. Hama ini merupakan ulat tanah yang aktif menyerang pada malam hari, pada siang hari bersembunyi di dalam tanah. Panjang tubuh ulat ini antara 30-35 mm, berwarna coklat tua dan kadang-kadang tertutup dengan butiran tanah. Hama ini banyak terdapat di dataran rendah sampai ketinggian 1.500 meter di atas permukaan lain.

Pemberantasan secara kimia dapat dilakukan dengan insektisida seperti Diazinon(60 EC dan  10 G) dan Tamaron. Untuk memberantas dapat digunakan Diazinon 60 EC dengan konsentrasi 1-2 cc/l air. Dapat juga menggunakan Diazinon 10 G ditaburkan di sekitar perakaran tanaman seperti pada pemupukan. Dengan cara ini, racunnya akan terhisap oleh akar tanaman dan membunuh hama yang memakan bagian tanaman tersebut. Sedangakan dengan Tamaron dengan konsentrasi 1-2 cc/l air dan Bayrusil 25 EC dengan konsentrasi 2 cc/l air.

Nematoda akar

Gejala yang tampak pada tanaman bawang putih yang diserang hama ini adalah pangkal titik tumbuhnya menjadi bengkak dan ujung akarnya menjadi kering serta busuk. Serangannya juga menyebabkan daun menjadi kerdil, mula-mula menggulung dan terlipat kemudian menguning dan pucuk-pucuk daun menjadi kering. Hama ini adalah jenis cacing yang ukurannya sangat kecil sehingga harus menggunakan lensa pembesar. Dan bila serangannya benar-benar parah tanaman tidak dapat membentuk umbi.

Pemberantasannya dapat menggunakan insektisida Furadan 3 G atau Nemagon. Insektisida Furadan 3 G berbentuk butiran dan merupakan insektisida sistemik dengan bahan aktif karbofuran 3%. Cara penggunaanya mudah, yaitu dibenamkan di sekitar perakaran tanaman seperti memupuk dengan pupuk akar. Insektisida ini dapat dihisap oleh akar tanaman tetapi tidak merusak tanaman itu sendiri.

Ingin dokumen Hama Tanaman yang lebih lengkap? Klik saja Hama Tanaman.pdf

About these ads
Ditandai: , ,
Posted in: Biologi