Jaringan energi terbarukan Eropa

Posted on Maret 31, 2010

0



Barangkali penghalang terbesar bagi penerapan energi terbarukan adalah ketidakstabilan alam yang gagal memberikan kepastian dan kestabilannya untuk memenuhi kebutuhan energi minimum ke jaringan listrik dari waktu ke waktu. Kira-kira seperti ungkapan ‘Matahari tidak selalu bersinar’, ‘Angin tidak selalu berhembus’, dan ‘Ombak tidak selalu ada’. Namun, bagaimana jika semua sumber energi terbarukan tidak ada pada saat yang bersamaan? Misalnya saat malam hari dan angin tidak berhembus sehingga ombak tidak dapat muncul? Seberapa sering hal tersebut akan terjadi? Siapa yang dapat menjamin pergerakan alam yang luas? Hal itulah yang kita hindari.

Matahari akan terbenam

Angin tidak selalu berhembus

Ombak tidak selalu berdesir

Berdasarkan sebuah artikel dari The Guardian, 9 pemerintah sedang merencanakan sebuah proyek senilai 30 milliar Euro (sekitar 43,5 milliar dollar AS) untuk membangun jaringan listrik bertegangan tinggi, kabel arus yang dapat secara langsung berhubungan dengan sumber energi terbarukan seperti wilayah dengan karakteristik alam tertentu (contohnya: pantai yang kaya ombak, daerah gurun yang panas, dan daerah yang kaya akan angin berhembus). Negara yang ikut serta dalam proyek ini antara lain Belgia, Perancis, Jerman, Belanda, Luksembrug, Denmark, Swedia dan Irlandia, dan UK. Secara bersama mereka akan mengumpulkan energi dari sinar matahari, ombak, pasang surut air, angin, panas bumi, dan listrik tenaga air terjun.

Banyak pecinta lingkungan yang menyatakan bahwa pada kenyataannya nanti, membuat sebuah sistem energi terbarukan dan mengkoneksikannya ke sistem jaringan listrik konvensional bukanlah penyelesaian masalah. Segalany pasti selalu bermasalah. Ketidakpastian akan pola hembusan angin, ombak. Selain itu manusia juga tidak tahu kapan dan dimana angin/ombak/air akan bergerak. Dan inilah yang akan membuat banyak perusahaan mungkin akan melaporkan bahwa target produksi energi mereka di bawah target atau di bawah persentase. Berdasarkan pada sebuah artikel dari sebuah blog tentang Sumber Daya Alam, perusahaan listrik bernama Electric Reliability Council of Texas (yang memproduksi listrik bertenaga angin paling besar di AS) menghitung bahwa hasil maksimum yang dicapai adalah hanya 8,7 persen dari kapasitas yang seharusnya bisa dihasilkan dari setiap turbin angin.

Angin yang sedang bertiup kencang

Hal ini berarti harus ada energi yang menjamin (stabil, pasti, dan terjamin) seperti gas alam, minyak bumi, dan batubara yang dapat menyalurkan energi di saat sumber energi terbarukan hanya dapat mensuplai sedikit dari apa yang seharusnya dihasilkan (misalnya saat jarang ada ombak, hembusan angin kecil, matahari sudah terbenam). Sehingga dari reduksi emisi karbon lebih kecil dari apa yang sudah direncanakan. Walaupun begitu, beberapa hal dapat dilakukan agar energi terbarukan menjadi investasi yang baik dan dapat diandalkan.

Minyak bumi, batubara, dan gas alam adalah sumber energy yang dapat dipastikan namun stoknya terbatas dan tidak terbarukan

Akan dimulai pada musim gugur tahun 2010, jaringan yang merentang di bawah Laut Utara akan disiapkan sebagai pencapaian Uni Eropa dalam membuat 20 persen sumber energi mereka yang berasal dari sumber energi terbarukan pada tahun 2020. Bukan hanya dikombinasikan dengan sumber energi fosil untuk menstabilkannya, namun sistem ini juga akan dikombinasikan dengan Hidro-elektrik milik Norwegia yang dapat menyediakan kapasitas penyimpanan 30 GW untuk menjamin ketangguhan sistem jaringan energi terbarukan Eropa. Analoginya adalah, di saat energi alam menghasilkan banyak energi terbarukan dibanding kebutuhannya, maka sebagian energi akan disimpan dengan memompa air ke bendungan yang lebih tinggi dari permukaan tanah. Nah, jika ombak/angin/matahari hanya menghasilkan sedikit energi dari yang dibutuhkan, maka air dari bendungan yang tinggi akan dialirkan sehingga dapat memutar turbin-turbin penghasil energi listrik. Hebat bukan?

Sistem hidro-elektrik dapat memakai bendungan untuk menampung air

Seperti invetasi infrakstruktur berskala internasional, proyek ini akan menciptakan banyak lapangan pekerjaan jika Eropa ingin memperbesar kapasitas penyimpanan/produksi energi terbarukan. Atau bahkan, ingin memenuhi lautan dengan membangun ‘baling-baling penghasil energi listrik’ lepas pantai?

Tenaga angin off-shore

Keuntungan lainnya tidak akan berakhir jika pembangunan proyek ini sudah selesai. Jika jaringan energi terbarukan selesai, jaringan ini dapat dioperasikan terus-menerus secara berkelanjutan dan diperbesar untuk mengakomodasi kapasitas dan permintaan yang terus bertambah. Selain itu, untuk menyeimbangkan beban sistem, perlu diterapkan sebuah ‘smart meter’ atau ‘pengukur cerdas’ yang ditempatkan pada pengguna skala kecil seperti rumah, mobil dan tempat individual skala kecil lainnya. Smart meter ini harus memuat informasi mengenai keadaan sistem secara real-time dan beban energi yang dipakai pengguna individu tersebut. Sehingga, setiap rumah dapat melihat kuota (beban sistem per satuan waktu/kwh) mereka dan membatasi/menghemat penggunaan listrik mereka. Hal ini cukup mendidik warga agar bijak menggunakan energi terbarukan. Walaupun terbarukan, tentu alam tidak dapat memenuhi keserakahan manusia bukan?

Berbagai macam Smart Meter untuk penggunaan energi

Yang menarik dari proyek jaringan listrik ini adalah, ‘interkoneksi’ yang diciptakan merupakan hasil dari pembelajaran manusia dari alam. Dan memang manusia perlu belajar dari alam dan menghilangkan keangkuhan manusia sebagai ‘makhluk yang paling mulia’. Apa yang kita pinjam dari alam (alam ciptaan Tuhan), juga harus kita kembalikan kepada alam. Proyek ini seperti sebuah ekosistem, karena antara sumber energi terbarukan dan tidak terbarukan saling melengkapi. Jadi, ini hampir seperti kita bisa sebut dengan industri ekologi, sama seperti kota Kalundborg, Denmark.

Fokus perhatian saya adalah, interkoneksi di antara berbagai sumber energi ke satu ‘sistem energi terbarukan’ dan koneksi ‘sistem energi terbarukan’ itu menuju pengguna baik skala besar (perkantoran, industri) maupun skala kecil (rumah, mobil) seperti skenario ekologi yang sangat mengagumkan. Manusia, perlu dan harus mengkoreksi dirinya, bahwa energi yang mereka pinjam harus dikembalikan kepada alam dengan sebanyak yang mereka bisa. Sehingga, penghargaan kepada alam pun terlaksana. Semoga, ini akan menjadi gambaran masa depan, dan manusia akan hidup dengan alam sebaik mungkin. Amin.

Ingin dokumen lebih lengkap? Klik saja Jaringan energi terbarukan Eropa.pdf

Posted in: Uncategorized