Upacara Bangun Rumah Betawi

Posted on April 15, 2010

0



Bagi masyarakat Betawi, membangun rumah adalah sesuatu yang sangat penting. Terutama bagi keluarga muda Betawi. Masyarakat Betawi (khususnya keluarga baru), jika belum punya rumah maka mereka akan terus-menerus tinggal di rumah keluarga besarnya sampai ia memiliki rumah. Hal ini tentu akan mengganggu perkembangan keluarga baru tersebut. Karena menurut adat turun-temurun, jika sang anak yang sudah menikah telah memiliki rumah, maka keluarga sang anak harus melaksanakan pindah rumah.

Memulai pembangunan

Membangun rumah bagi orang Betawi adalah sesuatu yang penting. Banyak pertimbangan yang dipakai antara lain dari segi biaya, ketersediaan material bahan bangunan, dan lahan tempat rumah akan dibangun bahkan pertimbangan yang berpatokan dengan alam gaib.

Hal-hal seperti pertimbangan tersebut dihitung oleh seorang kyai yang memiliki keahlian ilmu falak, di antaranya arah rumah, lahan, dan waktu dimulainya pembangunan. DI beberapa tempat, masyarakat Betawi membangun rumahnya berdasarkan arah naga besar walaupun pada dasarnya rumah bisa dibangun asal lahan itu miliknya. Untuk masalah lahan, ada tradisi yang tidak boleh dilanggar. Antara lain rumah tidak boleh dibangun di atas lahan yang telah dikeramatkan dan jangan membangun rumah anak di sebelah kiri rumah orangtuanya. Konon dapat menyebabkan keluarga si anak mengalami sakit penyakit dan rezekinya terhambat.

Upacara Pra-Pembangunan

Jika segala perhitungan dalam memulai pembangunan rumah sudah selesai maka diadakan upacara pra-pembangunan rumah. Hal ini dengan mengumpulkan sanak keluarga untuk membahas rumah jenis apa yang akan dibangun (Gudang, Joglo dan Bapang). Sanak keluarga diharapkan dapat ikut membantu secara materil maupun immateril. Dalam pertemuan itu akan diketahui apa saja yang harus dilakukan dan dipersiapkan dan yang telah dimiliki.

Rumah Gudang

Rumah Joglo

Rumah Bapang

Andilan

Andilan adalah nama lama untuk upacara Pra-Pembangunan. Dalam pertemuan yang disebut andilan tersebut sanak keluarga berkumpul untuk bergotong-royong untuk membantu sesuai dengan kemampuannya. Istilah andilan lebih luas dipakai untuk kegiatan swadaya anggota keluarga dalam mencapai sesuatu. Sanak keluarga dapat membantu antara lain memberikan uang, peralatan membangun rumah, genteng, papan kayu, maupun kayu untuk dijadikan tiang.

Setelah itu akan dilaksanakan tahlilan supaya rumah selama proses pembangunan mendapat keberkahan dan kemudahan. Para tetangga juga dapat ikut membantu meratakan tanah lahan yang akan dibangun (disebut sambatan).

Meratakan lahan

Pada hari yang telah ditentukan setelah sambatan, maka lahan yang akan dibangun akan diuruk untuk menambah ketinggian (disebut baturan). Sementara ahli bangunan (tukang) sudah membuat pondasi, tiang guru, kuda-kuda, pengeret, ander, penglari, papan nok, siku, ragam hias dan lain-lain. Jenis-jenis pohon yang digunakan diartikan secara simbolis sebagai hubungan manusia dengan alam.

Setelah baturan, akan disiapkan lima batang garam. Tiap garam ditaruh di pojok-pojok tanah, sisanya di tengah-tengah (1 buah). Konon garam-garam tersebut ditakut oleh jin-jin dan roh halus lainnya. Saat memasang umpak batu sebagai alas sebelum tiang guru didirikan, uang ringggitan, perakan, atau gobangan harus diletakkan di atas tumpak batu agar kehidupan pemilik rumah diharapkan makmur sejahtera. Dan nanti setelah rangka bangunan berdiri sebelum memasang kaso di tiang ander diikatkan sepandan pisang raja, sepandan kelapa, sedapur tebu, dan dikibarkan bendera merah putih. Di wilayah tertentu ada pula yang selamatan dengan membuat bubur merah putih dan bubur itu diplengsong (dibungkus) kemudian diletakkan di tiap tiang guru. Ini diyakini sebagai sesajen agar orang alus tidak mengganggu penghuni rumah.

Dahulu kala pembagian ruangnya pun tidak berbelit-belit yaitu ruang tamu, kamar tidur, dan dapur. Bahkan, ruang tamu ada pula hanya di beranda. Ruang keluarga sama dengan ruang tengah. Kamar tidur (pangkeng) terdiri dari dua sampai tiga kamar sebagai kamar tidur orang tua, anak laki-laki dan anak perempuan. Kalau ada tamu laki-laki yang menginap biasanya disiapkan alat tidur dari tikar pandan di ruang tengah dan ditemani oleh pihak laki-laki. Jika yang datang menginap adalah perempuan, maka ia dipersilahkan tidur di kamar tidur dengan ditemani pihak perempuan.

Posted in: Uncategorized