Kisah Hidup I.L. Nommensen

Posted on Desember 28, 2010

9



A. Gembira dan Tekun

1. Cerita

Ingwer Ludwig Nommensen lahir 6 Februari 1834 di Noordstrand, Jerman. Keluarganya miskin dan ayahnya sakit-sakitan namun tetap bekerja keras untuk menghidupi istri, Nommensen, dan tiga orang putri.

Jika kurang makanan, Nommensen dan teman senasib pergi ke pembantu orang kaya untuk meminta sisa makanan.

Saat berusia 4 tahun, seorang pemiliki toko datang ke rumahnya menagih hutang dan mengancam ibunya dengan kata-kata pedas. Nommensen sedih melihat hal itu dan bertanya kepada ibunya,”Apakah Tuhan seperti itu?”. Ibunya menjawab

bahwa Tuhan tidak seperti itu. Orangtua Nommensen makin dekat dengan Tuhan dan mendidik anak-anaknya untuk percaya pada Tuhan.

Nommensen rajin belajar dan bekerja. Saat 8 tahun, ia bekerja sebagai gembala domba. Saat 9 tahun, ia bekerja sebagai pembantu tukang mengatap rumah. Saat 10 tahun, ia bekerja pada petani kaya. Ia pun senang bermain sepulang sekolah. Sungguh energik.

Ketika umur 12 tahun, ia mendapat musibah. Salah satu kakinya terlindas roda kereta. Hingga 13 tahun, kakinya tetap lumpuh sehingga tidak dapat sekolah maupun bekerja. Temannya bercerita tentang seorang pendeta yang menginjili para penyembah berhala, ia tertarik mendengarnya. Buku milik Nommensen hanyalah sebuah Alkitab.

Suatu hari dokter menyatakan bahwa kaki Nommensen harus diamputasi untuk menghindari kematian. Jika berkaki satu, ia merasa akan sulit bekerja dengan baik dan diejek. Ia memohon kepada Tuhan untuk menyembuhkannya. Saat itu ayat yang menyentuh hatinya adalah Yohanes 16:23-26. Ia merenungkannya dan berharap penuh kepada Tuhan. Ibunyapun turut meyakinkannya tentang kebenaran ayat itu. Ia berjanji kepada Tuhan jika kakinya sembuh ia akan menginjili para penyembah berhala. Ia pun sembuh! Dan ia bekerja di ladang.

Setelah ayahnya meninggal pada 21 Juli 1848, ia tetap bersekolah dan bekerja. Ia mengikuti katekisasi dan naik sidi pada tanggal 1 April 1849. Ia menerima nats Yohanes 6:68 yang membuatnya teringat akan janjinya kepada Tuhan

2. Pelajaran hidupnya bagi kita : Bekerja keras, tabah, tahan banting, keyakinan penuh kepada Tuhan, peduli keluarga, energik, memiliki banyak teman.

B. Makin Dekat Kepada Tuhan

1. Cerita

Dua tahun setelahnya ia bekerja di sebuah pulau kecil sebagai penggembala lembu dan domba. Karena berdiri di air laut dingin selama setengah hari untuk memandikan ternak, ia terserang penyakit dada. Namun, ia tetap bekerja sebisanya. Namun,penyakitnya makin parah dan ia seperti orang gila, mengigau hingga temannya ketakutan atau ke atap gubuk dan siap jatuh ke bawah. Iapun diantar kembali ke ibunya oleh majikannya.

Majikannya membisikkan ibu Nommensen bahwa anaknya sudah gila dan tak ada harapan untuk hidup lama. Namun, ibunya yakin Nommensen hanya sakit keras. Ibunya merawat berminggu-minggu.

Setelah sembuh ia bekerja pada orang Inggris di kota Husum membangun jalan kereta api. Walau paling muda di antara kawan sekerja (baru 19 tahun), namun kekuatannya bekerja cukup luar biasa karena terbiasa kerja keras sejak kecil. Lalu di Husum terjadi wabah kolera.

Ia pun pulang ke rumahnya. Ia pamit kepada ibunya untuk memberitakan Injil walau ibunya dengan berat hati mengizinkan, sangat berat. Ia juga berpamitan dengan teman dan keluarganya. Perbekalannya: Alkitab, buku nyanyian, buku katekismus, buku-buku lain, pakaian dan uang sekadarnya. Ia juga bermimpi bertemu almarhum gurunya agar menepati janjinya.

Ia pun pergi ke rumah pamannya di Okkolm dan bercerita tentang maksudnya. Ia juga pergi ke tempat lain dan bekerja pada seorang petani kaya di Wriseum. Ia diberi kebebasan membaca koleksi buku petani kaya itu, di antaranya buku kecil Sepuluh Hukum Tuhan yang selalu ia kantongi untuk dihafal.

Setengah tahun kemudian ia bertemu Pak Heisen, bekas gurunya. Gurunya mengetes kemampuan Nommensen. Ia melaluinya dengan baik. Gurunya bertekad memasang iklan agar Nommensen menjadi guru pembantu.

Ia mendapat panggilan menjadi guru pembantu Pak Nahnsen di kota Risum. Ia pun pergi ke Risum dan mengajar mulai bulan Oktober. Saat dating pertama kali, keluarga pak Nahnsen meremehkannya karena penampilannya kurang meyakinkan sebagai guru pembantu. Ia pun melaksanakan tugasnya dengan baik dan mendapat banyak pengetahuan dari Pak Nahnsen. Hal inilah yang membuat Pak Nahnsen senang kepada Nommensen. Dua minggu kemudian ia diangkat menjadi guru tetap oleh Ephorus di wilayah itu. Suatu hari selesai menulis nomor nyanyian di papan tulis gereja, ia berdoa akan beban hatinya di gereja itu. Tepat setelah berdoa, bunyi guntur menggelegar dan ia lari karenanya. Ia percaya Tuhan mendengar doanya.

2. Pelajaran hidupnya bagi kita : Rendah hati, teguh pendirian, bekerja sepenuh hati.

C. Panggilan Tuhan Dipenuhi

1. Cerita

Akhir Maret 1854, Nommensen mendapat pekerjaan baru di kota Gotteskoog. Suatu hari, setelah mengajar ia bercakap-cakap dengan penilik sekolah itu, Bapak Pendeta Haustedt. Ia mengungkapkan kerinduan untuk menginjili orang-orang kafir. Pak Haustedt menyuruhnya mempersiapkan bekal ilmu dan nafkah. Nommensen yakin Tuhan akan mengaturnya. Nommensen diharuskan masuk sekolah pendeta. Ia mendapat traktat, surat kabar,dan tulusan dari Lembaga Leipzig. Ia pun sadar akan pengalaman para penginjil orang-orang kafir. Ia merasa masih harus banyak belajar.

Tahun 1885, ia pulang ke kampung halamannya. Di tengah perjalanan ia menginap di rumah tukang sepatu bernama Pak Sommer sebelum ia naik kapal ke Noorstrand. Saat itu, Pak Sommer kedatangan sahabatnya. Mereka berpelukan demikian erat. Sahabat Pak Sommer bercerita bagaimana ia bertobat dan seringkali ia menangis setiap mengakhiri tiap ceritanya. Bapak itu berkata,”Tidak ada yang dapat menghalangiku pergi ke tempat mereka yang masih hidup dalam kegelapan untuk menceritakan apa yang diperbuat Yesus kepada diriku,”. Hal ini membuat Nommensen merasa kecil dan rendah diri dibanding bapak itu. Ia merasa pertobatannya belum benar dan ia merasa picik.

Sesampainya Noorstrand ia turun bersemangat pulang ke rumahnya. Ia memeluk ibunya dan menciumnya dengat kerinduan dalam. Ibunya menangis haru. Namun, setelah adiknya (Lucia) naik sidi, ia mohon pamit lagi. Ia bertekad belajar 8 bulan lagi di Barmen untuk memenuhi janjinya pada Tuhan. Ibunya berkata mungkin itu terakhir kalinya mereka akan bertemu. Dan benarlah ibunya meninggal 1 tahun 8 bulan kemudian. Nommensen sangat sedih karena tidak dapat menghadiri pemakaman ibunya.

Beberapa bulan kemudian, ia dan 3 orang temannya diterima di sekolah pendeta. Ia belajar Firman Tuhan sungguh-sungguh selama 4 tahun. Setelah tamat, ia ditempatkan di kampung halamannya. Dengan sedih ia berdiri di sisi makam ibunya sekaligus mengucap syukur akan sosok ibu yang diberikan Tuhan. Ia pun mengunjungi pulau di sekitar kampungnya untuk mengabarkan Injil. Banyak yang bertobat mendengarnya, karena peranan Roh Kudus. Namun, ada pula yang membencinya.

Ia ditahbiskan sebagai pendeta pada Oktober 1861 di Barmen. Dan pada tanggal 1 November 1861 ia ke negeri Belanda. Di kota Elberfeld ia membentuk kelompok paduan suara dan penelaahan Alkitab beranggota 150 orang dan memimpin selama 3 tahun.

Dari Amsterdam ia berlayar ke Sumatera. Ia bertemu Nona Malga yang suka membagikan traktat. Selama perjalanan ia banyak berkhotbah dan mengajar. 3 minggu kemudian, kapal kapten tidak mengizinkan lagi. Banyak peristiwa alam yang dashyat mereka alami, namun mereka selalu luput. Namun, kapten kapal tetap tidak bertobat. Nommensen pun merasa sedih.

Pada 16 Mei mereka tiba di teluk Bayur, Padang. Kapten memohon agar Nommensen dan Nona Malga menandatangani bahwa mereka mendapat pelayanan baik. Ia bersedia walaupun selama perjalanan ia mendapat banyak hinaan. Ia pun memperbaharui janjinya dengan memohonkan kepada Tuhan untuk memakainya terus dalam pimpinan Tuhan. Perjanjian itu dimeteraikan I.L. Nommensen tanggal 13 April 1862 dan oleh istrinya tanggal 20 Februari 1866. Setelah itu, kapal yang pernah mereka tumpangi karam di dekat Guinea.

2. Pelajaran hidupnya bagi kita : Rajin belajar, peduli akan pengalaman orang lain, mencintai orangtua, mendahulukan Tuhan, memohon peranan Roh Kudus, aktif dalam pelayanan, gigih dalam bersaksi, yakin akan campur tangan Tuhan dalam kehidupan.

D. Di Mana Ada Kemauan, Di Situ Ada Jalan

1. Cerita

Setelah menyerahkan Nona Malga pada tunangannya, Nommensen pergi ke Barus. Penduduk Barus sangat takut terhadap orang kulit putih. Namun, ia berhasil menebus 2 orang dari hutang mereka. Merekapun dididik Nommensen berhitung, membaca, dan menulis.

Nommensen bisa berbahasa Batak karena banyak berinteraksi dengan penduduk di beberapa kampung, ia jadi sering mengunjungi orang-orang sakit dan memberi obat.

Ia bertemu Bapak Heine, sahabat lama di Bremen. Saat Nommensen menyeberang sungai di dalam sebuah peti gantung, ia mengalami kesulitan. Namun ia berdoa agar Tuhan membantunya menyeberangi dengan tangannya menggantung pada bambu. Ia dapat , melakukannya.

Tanggal 7 Oktober 1861, ditetapkan sebagai tanggal berdiri HKBP. Dalam rapat itu, Nommensen ditugaskan ke Bunga Bondar. Pekabaran Injil diputuskan dimulai di Parausorat karena memiliki banyak penduduk. Nommensen tinggal dengan sangat sederhana di Parsaorat. Di situ ia mendirikan sekolah. Lalu ia berniat ke Silindung karena pesan gurunya di Barmen. Di Silindung ia tinggal di gua bersama orang-orang yang bersembunyi karena perang. Ia mendoakan orang-orang yang bersamanya.

Esoknya ia disambut rakyat kampung Raja Ompu Gumara. Dia mengabarkan injil hingga tengah malam di situ. Dari situ ia pergi ke Silindung.

2. Pelajaran hidupnya bagi kita : Peduli keselamatan orang lain, mudah mengulurkan tangan bagi orang yang kesusahan, mudah beradaptasi, suka mendidik dan mengajar, yakin akan muzizat Tuhan, suka mendoakan orang lain.

E. Peperangan Melawan Iblis

1. Cerita

Orang-orang yang sudah dibabtis mengalami banyak tantangan. Mereka semua diusir karena tidak mau membayar iuran untuk penyembahan berhala. Merekapun mengungsi ke Huta Dame dan mendirikan rumah untuk 30 orang. Walau mereka hidup susah, di sana Nommensen merawat yang sakit.

Suatu hari Nommensen dipanggil ke Sibolga karena ada raja yang sakit. Baru saja sampai di rumah raja itu, seorang pemuda terkapar terkena tembakan dari seseorang dan mati seketika. Hal itu terus terjadi di Sibolga, saling menembak, merampok, dan membunuh. Ini dilakukan iblis agar Firman Tuhan tidak masuk ke lembah Silindung.

Ia pun kembali ke Huta Dame dan mendirikan sekolah di sana. Ia memperbesar rumah untuk menampung orang Kristen. Ia sering berkhotbah di sana.

Pada tanggal 16 Februari Nommensen dan 25 orang temannya menyambut tunangannya ke Padang. Ia mengadakan pernikahan di Sibolga tanggal 16 Maret 1866. Selama satu bulan, berulang-ulang datang surat dari Silindung untuk pulang, karena Huta Dame terancam dibakar. Namun, Nommensen yakin Tuhan akan melindungi mereka.

Setibanya di Huta Dame, penduduk berdesakan untuk melihat istri Nommensen dan barang yang dibawa dari Eropa. Niat jahat musnah dan berganti dengan undangan makan dari para raja di sekitar Huta Dame.

Suatu hari wabah cacar meluas. Wilayah di sekitar Huta Dame menderita cacar yang parah dan banyak yang mati, kecuali Huta Dame. Mengapa? Karena kasih Tuhan pada Huta Dame yang memberkati orang yang menurut nasihat Nommensen: si sakit tak boleh dimandikan. Karenanya banyak para orangtua yang bunuh diri. Karena Huta Dame luput dari penyakit tersebut, maka banyak penduduk membawa anak-anaknya mengungsi ke Huta Dame.

Hal ini didengar oleh Raja Sisingamangaraja. Ia menentapkan tanggal 27-28 Juli 1866 untuk membakar Huta Dame. Penduduk pun bersatu dalam doa berseru kepada Tuhan. Setelah sembuh, banyak penduduk yang dibabtis, ada sekitar 50 orang.

Waktu itu sebuah peti barang milik Pak Johannsen hilang dicuri anak raja besar di Hutabarat. Peti itu dapat ditemukan. Nommensen mengerahkan para pemuda untuk menemukan peti tersebut. Selain karena kerjasama tim, pemuda-pemuda mereka juga disegani karena sering membantu orang yang kesurupan.

2. Pelajaran hidupnya bagi kita : suka menolong, gigih dalam bersaksi, yakin akan kuasa Tuhan, berpengetahuan tinggi, menjaga kepercayaan orang lain, berkobar dalam Tuhan.

F. Ketika Musuh Menghadang

1. Cerita

Waktu itu ada seorang Kristen yang mencurahkan isi hatinya kepada Nommensen. Ia berkata Tuhan sangat baik. Namun, ada satu hal yang sangat ia inginkan belujm dikabulkan Tuhan, ia ingin belajar membaca supaya makin mengerti Firman Tuhan. Keinginannya terkabul dan ia rajin membaca injil dan meneruskan pada teman-temannya. Setelah itu makin banyak orang yang ingin belajar Firman Tuhan lebih dalam dengan inisiatif sendiri. Hal ini meneguhkan hati Nommensen akan karya Tuhan dalam hidup mereka.

Suatu saat seorang laki-laki bernama Mika mengajak istri dan anaknya menyanyikan lagu pujian sebelum tidur. Namun, di tengah malam Mika ditembak mati oleh hulubalang Raja Hutabarat. Ia pun senang. Namun, Daniel dan pemuda Huta Dame bertekad membalas kematian ini dengan menembak Hulubalang tersebut yaitu putra tunggal Raja Hutabarat. Padahal Nommensen sudah mengingatkan jangan membalas. Namun tetap saja para pemuda Hutadame membalasnya. Dan pemuda Huta Dame berhasil membunuh hulubalang tersebut dan pulang dengan selamat.

Waktu itu ada 2 orang saudagar yang dibunuh. Semenjak itu pula Huta Dame kembali berada dalam ancaman. Namun, penduduk Huta Dame merasakan betul perlindungan Tuhan dan dari tanggal 9 Desember-23 Desember 1868, orang-orang Kristen bergiliran menjaga Huta Dame secara sukarela.

2. Pelajaran hidupnya bagi kita : Saling bergotong royong dan bekerja sama, jangan membalas perbuatan musuh dengan kekerasan, kita harus memiliki inisiatif untuk belajar Firman Tuhan.

G. Injil Tersebar Melalui Penderitaan

1. Cerita

Kedatangan gubernur Arriens dari Eropa membuat pekabaran injil mendapat tempat dan jaminan keamanan. Hal ini didukung dengan bertambahnya pelayan-pelayan kerajaan Tuhan dari Eropa.

Suatu saat 3 orang Kristen ditawan. Ada yang dibunuh, dipenggal, dan dibiarkan hidup. Setelah mendengar hal itu, Nommensen dan beberapa raja berangkat untuk berunding agar tawanan sisa jangan dibunuh. Tawaran diterima jika ada uang tebusan. Demikian banyaknya tantangan yang dialami pendeta-pendeta Eropa untuk mengabarkan injil di tanah Batak. Meski demikian, mereka tidak putus asa. Makin hari, orang Kristen makin bertambah banyak. HIngga Nommensen menderita disentri. Namun, karena doa orang banyak ia pun disembuhkan. Pekerjaan di Huta Dame pun dilanjutkan oleh Johannsen.

Setelah sehat, Nommensen kembali ke Huta Dame. Mereka membangun rumah dan gereja Nommensen yang baru. Hal itu membuat Nommensen teringat aakan sikap masyarakat saat pertama kali bertemu. Ia mengucap syukur yang sangat kepada Tuhan. Namun, dalam sukacita itu, putri Nommensen dipanggil Tuhan. Selain itu, istrinya juga sakit keras. Di tengah pergumulan tersebut, Tuhan mengaruniakan Nommensen seorang putra bernama Kristiansen. Setelah itu, anak sulungnya pun meninggal. Namun, penderitaan itu membuahkan kebajikan. Makin banyak orang yang dibabtis. Terlebih saat natal 1872 ada 52 orang yang ingin dibabtis dan mengadakan pesta besar pertobatan. Namun, Nommensen menyarankan agar biaya pesta sebaiknya disumbangkan pada orang-orang miskin.

Nommensen pun meluaskan daerah pelayanannya ke Bahalbatu dan Balige. Di sana ia sempat bersilat lidah dan logika tentang injil yang ia kabarkan. Namun, lidahnya yang digerakkan Roh Kudus membuatnya menang, dan ia serta pendeta yang menemaninya disegani di situ.

2. Pelajaran hidupnya bagi kita : HArus menguapayakan otak terlebih dahulu dalam menyelesaikan persoalan, kebaikan kita pada orang lain akan membuahkan kebaikan kepada diri kita, kita harus mempergunakan harta benda untuk memuliakan nama Tuhan misalnya dengan bersedekah.

H. Bagai Puntung Ditarik Dari Api

1. Cerita

18 tahun semenjak di sumatera, Nommensen berniat pulang ke Jerman melalui Padang. Di sana Nommensen diberi tahu bahwa seorang serdadu bernama De Paauw akan dihukum mati karena memberontak. Ia paham maksud Tuhan membawanya ke tempat itu.

Pertama kali ia berbicara dengan serdadu itu, serdadu itu menolaknya dengan keras dan menolak kebenaran firman Tuhan yang disampaikan oleh Nommensen. Namun, dengan kegigihan Nommensen dan bantuan Tuhan, doa-doa Nommensen dijawab. Serdadu itupun menerima Tuhan kembali sebelum ia dihukum mati. Serdadu itu memegang Alkitab dan berseru kepada para serdadu temannya untuk memenuhi panggilan Tuhan. Lalu dia pergi ke Amsterdam dan pergi ke Haarlem mengunjungi ibu serdadu yang telah mati itu. Ia menyerahkan surat dan pesan putra ibu itu. Ibunya sangat bersedih tentang nasib anaknya. Ia memberitahu ibu itu tentang pertobatan De Paauw dan ibunya menerima Alkitab berlumuran darah anaknya. Semenjak Nommensen bersaksi tentang De Paauw kepada teman-temannya, maka dibentuklah panitia pakabaran injil kepada para serdadu.

2. Pelajaran hidupnya bagi kita : Kita harus peduli pada penderitaan orang lain.

I. Akhir Pelayanan Nommensen

1. Cerita

Dari Eropa ia berniat kembali menginjili ke pulau Sumatera. Namun, kali ini tanpa istri dan anak-anaknya.

Rombongan Nommensen dan pendeta Elisa berjalan kaki dari Laguboti ke Balige untuk menuju Pangururan. Dan setibanya di Pangururan, mereka disambut dengan musik tiup dan nyanyian indah.

Saat itu, Nommensen mengungkapkan bahwa ia mengalami sakit jantung. Temannya bertanya apakah kira-kira ia sudah dekat dengan ajalnya. “Kehendak Tuhanlah yang jadi,” sahut Nommensen.

Semenjak itu Nommensen tidak dapat memberikan amanat-amanat penting.

Sebelum wafat, Nommensen berdoa, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu kuserahkan rohku….” Saat itu pula lonceng gereja berbunyi. Lalu anaknya berdoa Doa Bapa Kami. Nommensen meninggal tanggal 23 Mei 1918 dan dikuburkan di Sigumpar Tapanuli Utara.

Sejak saat itu gereja di Sigumpar dinamakan HKBP Nommensen dan makamnya terletak di dekat gereja itu dan menjadi tempat tujuan wisatawan asing.

2. Pelajaran hidupnya bagi kita : Jangan pernah berhenti bersaksi sampai akhir hidup, tetap berserah dan mengakui hak prerogative Tuhan atas hidup kita.

Posted in: Pribadi