Daur Ulang atau Re-Use yang tidak selalu baik?

Posted on Mei 19, 2012

0


Daur Ulang atau Re-Use yang tidak selalu baik?


Zaman sekarang ini kita sering mendengar atau melihat dari berbagai media mengenai topik-topik yang green. Hal ini dikarenakan pemanasan global (global warming) yang terjadi sekarang ini. Berbagai upaya dilakukan oleh masyarakat dalam ikut serta memerangi pemanasan global salah satunya dengan memanfaatkan ulang (re-use) maupun mendaur ulang. Selain itu, tindakan ini juga mengurangi jumlah sampah.

 

Daur ulang di mana benda itu diolah secara kimia supaya didapatkan bahan baru.  Lalu bahan tersebut kemudian digunakan untuk memproduksi benda yang baru sama sekali. Cara ini biasanya diterapkan pada benda elektronik, plastik, dan sebagainya. Cara kedua adalah di mana kita memanfaatkan barang bekas tersebut seutuhnya, semisal membuat tas dari bungkus deterjen yang dijahit maupun membuat topi dari kertas bekas.

 

Dalam memanfaatkan benda bekas tentu kita harus memerhatikan beberapa aspek, salah satunya adalah segi kesehatan. Kita harus dapat menjamin bahwa dalam memanfaatkan benda tersebut tidak menimbulkan dampak buruk baik bagi manusia dan lingkungan. Namun, beberapa pihak saya pikir mengabaikan fakta ini dengan latar belakang alasan yang berbeda atau juga karena ketidaktahuan. Berikut saya paparkan contohnya:

Sedotan Plastik

gambar,sedotan,plastik

Di beberapa tempat saya pernah lihat di mana sedotan yang umumnya untuk minum ini dimanfaatkan ulang! Hal ini terutama jika bentuknya masih baik. Untuk itu jika Anda menggunakan sedotan (di manapun itu) perhatikan dengan baik jika ada kerusakan (yang seharusnya tidak ada) pada sedotan tersebut. Setelah Anda menggunakan sedotan, Anda dapat merusaknya dengan melipat-lipat sedotan tersebut hingga timbul kerusakan secara fisik pada sedotan.

Kemasan Air Minum

gelas,bahan,styrofoam Gelas Bahan Plastik Kemasan Air Mineral Botol Plastik Kemasan Air Mineral Gelas Plastik

Yang saya maksudkan di sini adalah segala jenis Air Minum berkemasan, entah itu air mineral maupun tidak. Kemasan yang dibuang dapat mengalami pemalsuan produk. Biasanya kemasan air minum dapat berupa plastik maupun styrofoam. Semisal kemasan air minum gelas, sang pelaku bisa saja memalsukannya dengan ‘hanya’ membuat kemasan penutup berupa plastik yang dicetak label. Sedangkan untuk kemasan botol saya pikir lebih sulit memalsukannya walau tidak menutup kemungkinan pemalsuan bisa saja terjadi. Untuk itu sangat penting bagi kita untuk peduli dengan merusak kemasan sebelum dibuang dengan cara meremukkan atau memotongnya.

Kemasan Makanan

tempat,makan,kemasan,makanan,styrofoam 

Dalam hal ini kemasan makanan yang maksud adalah yang umumnya kita temui adalah di tempat-tempat makanan. Dalam Ancaman terhadap pemanfaatan ulang maupun pemalsuan bisa saja terjadi. Apalagi dimanfaatkan ulang untuk makanan yang dibawa pulang dari luar. Untuk itu sangat penting bagi Anda untuk merusak kemasan makanan tersebut sebelum dibuang atau ditinggalkan di tempat pembelian.

Sendok, Garpu, dan Pisau Plastik

Hal ini pernah saya perhatikan di beberapa tempat, di mana saya melihat pemilik tempat makanan mencuci sendok-sendok plastik. Dan lagi di mana saya menemukan oknum-oknum tertentu yang mengumpulkan sendok bekas di sekitar tempat makan yang peruntukannya tidak jelas untuk apa (yang pasti membuat saya penasaran). Menurut saya, karena bentuknya yang paling keras dibanding benda-benda yang saya sebutkan di atas sehingga benda-benda seperti itu jarang mengalami kerusakan atau perubahan bentuk. Hal inilah faktor yang menyebabkan sendok, garpu, atau pisau plastik mudah mengalami re-use.  Beruntung, walau tergolong paling keras dibanding lainnya, benda ini sifatnya getas (tidak terlalu lentur) sehingga mudah dipatahkan. Untuk itu penting untuk Anda agar mematahkannya terlebih dahulu sebelum dibuang maupun digunakan.

 

Lalu, mengapa saya mengangkat artikel ini? Bukankah re-use juga suatu hal yang baik?

Saya akui memang re-use  memiliki sisi yang baik. Namun, hal ini tidak terlepas dari dampak negatif. Yang pertama mungkin dari sisi kebersihan. Karena saya secara pribadi tidak dapat menjamin tingkat kebersihan dari benda-benda re-use terutama untuk digunakan sebagai alat makan dan minum. Lalu juga dari sisi kesehatan yang dalam hal ini bahan tertentu (plastik misalnya) memiliki batasan jumlah penggunaan masa pakai yang tergantung dari jenis plastik tersebut. Perlu diperhatikan bahwa bukan berarti jika Anda menggunakan sendok plastik berkali-kali untuk makanan yang tidak panas maka Anda boleh menggunakannya berulang kali tanpa batas. Sulit untuk mengindentifikasi ciri plastik apa yang kita temukan. Sudah seharusnya kita waspada mengenai hal ini. Bahaya yang mungkin timbul antara lain mulai dari penyakit pencernaan sampai kanker.

 

Namun dalam merusak benda-benda di atas saya pikir Anda juga harus memikirkan apakah benda yang akan saya maksud di atas berhak Anda rusak. Jangan sampai piring plastik milik tetangga yang berharga malah Anda rusak ketika Anda disuguhkan makanan. Ha!