Strategi Mengatur Keuangan untuk Mahasiswa Perantauan (Anak Kos)

Posted on Juli 25, 2012

2


college_money


Dahulu, sesaat setelah menerima pengumuman SNMPTN, saya mempersiapkan diri saya dengan berbagai macam hal. Tentu dalam hal ini, pihak yang saya ajak berdiskusi adalah orangtua. Banyak hal yang kami bicarakan. Salah satunya adalah budget bulanan. Mereka mengatakan bahwa uang bulanan saya adalah Rpx,00 juta. Saya berpikir saat itu,bahwa jumlah tersebut jelas sangat banyak. Saya berpikir betapa nyamannnya hidup saya nanti di tanah perantauan.

Kenyataannya tidak, terutama awal-awal bulan saya tinggal di tanah perantauan. Hal ini saya katakan kurangnya kesadaran saya akan uang. Saya lupa bahwasanya sekarang saya harus membeli makanan sendiri. Terlebih saya sangat suka menghabiskan uang saya untuk beli snack. Saya sangat mudah mengeluarkan uang untuk hal-hal sepele, yang utama adalah softdrink. Selain itu saya juga memfotokopi banyak materi pelajaran tanpa tahu bahwa tidak semua materi sebenarnya saya butuhkan, seharusnya cukup dengan catatan dari dosen saja. Saya pun dirundung penyakit karena terlalu banyak minum softdrink. Sehingga, kekurangan uang sudah saya rasakan bahkan pada saat pertengahan bulan. Jalan terakhir jelas meminta tambahan dana dari orangtua.

Nah, tidak mau mengalami hal-hal seperti saya, saya? Saya punya beberapa tips untuk diterapkan (mungkin sangat berguna bagi Anda yang tidak akan menambah dana tambahan dari orangtua):

1. Buat perencanaan dan perkiraan budget Anda. Saya katakan bahwa saya benar-benar meremehkan yang satu ini. Walau saya tahu banyak forum-forum keuangan pribadi yang pernah saya baca yang mengatakan bahwa perencanaan keuangan adalah penting. Saya beritahu Anda, perencanaan keuangan yang saya buat, memang bukan untuk saya laksanakan. Melainkan murni untuk mengetahui kondisi budget saya dan mengetahui batasan-batasan pembelian yang saya dapat lakukan tiap bulannya. Sehingga hal ini penting untuk membuat garis besar pengeluaran Anda, baik di atas kertas atau mungkin komputer.

2. Minimalisir biaya materi kuliah. Banyak hal yang dapat Anda lakukan mengenai hal ini. Langkah pertama adalah menentukan relevansi buku/materi yang ingin Anda beli (atau Anda ingin fotokopi) dengan relevansi materi kuliah yang Anda akan dapatkan. Semisal saya di jurusan teknik ***. Materi matematika memang memiliki bobot nilai 3 SKS dari 23 SKS yang saya dapatkan. Namun, ternyata pembahasan matematika yang saya dapatkan tidak terlalu dalam seperti jurusan matematika (walau saya akui tetap sulit). Sehingga, yang saya butuhkan saat itu memang benar-benar catatan dan materi soal dari dosen mata kuliah bersangkutan. Jika Anda sudah menentukan materi kuliah yang ingin Anda fotokopi, saya sarankan untuk memfotokopinya menggunakan kertas buram, dikarenakan sebagian besar tempat fotocopy memasang tarif lebih rendah untuk jenis kertas ini. Lalu juga sistem penjilid-an. Menjilid materi yang Anda fotokopi memang saya katakan penting untuk menjaga agar materi tetap awet. Pilihlah opsi penjilidan yang paling murah.

4. Tekan biaya makanan. Nah, maksudnya? Jelas saya tidak menyarankan Anda untuk mengurangi frekuensi makan maupun membeli makanan yang kurang berbobot. Dalam hal ini Anda dapat melakukan penghematan antara lain dengan meminimalisir atau bahkan meniadakan biaya untuk membeli makanan ringan. Lalu, perhatikan untuk selalu mengusahakan agar makanan Anda mengandung sayur-sayuran di setiap kali Anda makan. Hal lain yang Anda juga bisa lakukan adalah memasak nasi sendiri di tempat kos. Namun, terus terang saya tidak melakukan hal ini karena membutuhkan waktu tambahan untuk membuatnya. Intinya, usahakan makanan yang Anda makan memiliki bobot gizi yang baik dengan mengingat mahal belum tentu bergizi baik dan bergizi baik belum tentu mahal.

5. Tekan biaya laundry. Hal yang Anda lakukan tentu mencuci pakaian sendiri. Namun, bila Anda punya sedikit waktu karena kesibukan Anda, saya punya pengalaman menggunakan jasa laundry. Di tempat saya berkuliah, biaya untuk cuci pakaian pada umumnya adalah Rp3.000,00/kg. Ini merupakan paket yang mereka sebut dengan ‘cuci kering-setrika’. Jadi, selain dicuci dan dikeringkan juga sekaligus disetrika. Namun yang membuat saya tertarik adalah adanya paket yang mereka sebut dengan ‘cuci kering’ saja, dengan biaya hanya Rp2.000/kg. Saya iseng untuk mencoba paket ini. Dua hari kemudian, pesanan telah selesai. Tahukan Anda apa yang saya dapatkan? Pakaian saya yang hanya ‘cuci kering’ terlipat dengan rapi layaknya telah disetrika. Selain itu, pakaian tetap diberikan pengharum sehingga hasil ‘cuci kering’ tadi tetap baik. Kalau tahu seperti ini, untuk saya menggunakan paket ‘cuci kering-setrika’?

6. Ketahui dengan baik harga barang-barang kebutuhan Anda. Sangat penting untuk mengetahui hal ini. Di tempat saya berkuliah, lokasi belanja murah yang saya tahu hanya di sebuah waralaba asing asal Eropa. Karena, sejauh yang saya tahu, mereka memberikan jaminan bahwa akan memberikan ganti harga barang dua kali lipat jika kita berhasil menemukan harga barang sejenis yang lebih murah di pasar modern lainnya. Kenyataannya tidak jauh dari situ, telah lama berdiri pasar modern bermerk lokal yang memiliki jumlah pengunjung lebih ramai dibanding waralaba asing tersebut. Semua harga barang di pasar modern lokal itu ternyata lebih murah, sehingga membuat saya tidak percaya pada omong kosong waralaba asing itu. Penting juga jika Anda memiliki uang lebih untuk membeli barang-barang yang waktu rusaknya (semisal basi) lama dalam jumlah yang banyak. Terlebih jika penjual memberikan otongan harga khusus. Membeli jumlah banyak memiliki keuntungan untuk menghemat waktu Anda untuk kembali ke sana yang juga berarti menghemat biaya transportasi.

7. Buat perencanaan mengenai apa kebutuhan Anda yang ingin Anda beli. Mungkin sebagian dari kita sudah pernah mendengar maupun membaca mengenai hal ini. Namun, banyak dari kita yang enggan menerapkannya. Padahal, dengan perencanaan kita bisa mengetahui pasti apa kebutuhan kita dan menghindari diri kita dari membeli barang-barang yang sebenarnya kita tidak butuhkan.Perlu Anda perhatikan bahwa perencanaan juga berarti menghindari kemungkinan lupa membeli barang yang Anda butuhkan.

Posted in: Pribadi