Gula Aren si “Jago Merah” Pemanis Sehat Nusantara

Posted on Februari 8, 2014

5



Pembaca, pernah mendengar istilah gula aren? Konon, gula aren atau yang kerap disebut gula merah digunakan secara luas oleh masyarakat nusantara. Bahkan, gula ini juga diproduksi secara luas di Asia dan Afrika. Dengan kata lain, gula ini pernah jadi ‘jagoan’ masyarakat. Walau kalah populer dibandingkan gula pasir, namun gula aren punya segudang fakta dan cerita dan akar sejarah yang tak ternilai.

Gula aren (palm sugar) adalah pemanis sehat yang dibuat dari nira pohon aren. Sebagian dari kita mungkin menamakannya gula merah. Hal ini disebabkan gula aren berwarna merah, walaupun sebenarnya berwarna merah gelap kecoklatan. Perlu diketahui, gula merah belum tentu gula aren. Hal ini karena gula merah dapat diproduksi dari bahan lain yaitu kelapa.

Gula aren berbentuk bubuk

Umumnya, sebagian dari kita pernah melihat gula aren . Biasanya gula ini dapat dijual dalam bentuk cetakan padat maupun bubuk. Kemasannya pun tidak menarik karena diproduksi secara tradisional. Namun, ada juga produsen dalam negeri yang memproduksi gula aren secara massal dengan kemasan yang menarik. Bahkan, juga dijual dalam bentuk cair.

Gula merah biasanya dapat ditemukan dengan mudah di pasar. Saya sendiri selama ini jarang menemukan gula merah dijual di supermarket maupun swalayan-swalayan kecil. Mungkin saya kurang memperhatikan, entahlah. Yang pasti, saya sering melihat gula jenis ini dijual di pasar-pasar tradisional dan pedagang bahan makanan keliling (entah apa istilahnya). Mengapa seperti itu? Apakah gula aren tidak lebih baik dibandingkan gula pasir?

Lebih Sehat dan Lebih Aman Dikonsumsi

Perlu diketahui, kandungan gizi gula aren lebih banyak dibandingkan gula pasir. Tidak heran, banyak ahli menyebutkan bahwa gula aren merupakan pemanis sehat dibanding gula pasir. Mengutip informasi dari www.fatsecret.co.id, setiap 1 sendok teh Gula Merah mengandung nilai kalori sebesar 11 kkal. Lebih sedikit dibandingkan gula pasir yang mencapai 16 kkal. Hal ini tentu kabar baik bagi pembaca yang rentan terhadap kandungan kalori, baik karena penyakit maupun program diet.

image_thumb[7]

Dari grafik juga terlihat, gula aren mengandung sodium dan kalium yang tidak dimiliki oleh gula pasir. Hal ini lagi-lagi membuat gula aren memiliki kandungan gizi yang lebih banyak. Kandungan gizi di gula aren juga lebih terjaga karena diproses dengan cara alami dan tidak mengalami proses pemurnian berkali-kali.

Menurut Natural Abundance , gula aren juga memiliki nilai Glycemic Index (GI) di kisaran 35 s/d 40. NIlai ini jauh lebih rendah dibandingkan nilai GI pada madu maupun gula pasir (lebih dari 70). Semakin rendah nilai GI, maka semakin aman untuk penderita diabetes. Berikut klasifikasi nilai GI:

Klasifikasi NIlai
Rendah kurang dari 55
Sedang 56 hingga 59
Tinggi lebih dari 70

SUmber : http://en.wikipedia.org/wiki/Glycemic_index

Melihat kenyataan di atas, kita mengetahui bahwa gula aren memiliki segudang manfaat yang tidak ditandingi oleh gula pasir. Namun, mengapa gula aren tidak sepopuler gula pasir (gula tebu)?

Mengejar Keuntungan Melalui Ekspor

Sebenarnya, gula aren pernah mencapai masa kejayaan di masyarakat nusantara. Dulu, masyarakat nusantara memanfaatkan baik pohon aren maupun pohon kelapa untuk memproduksi gula merah. Namun, setelah dijajah Belanda, pemerintah kolonial mencanangkan produksi gula pasir (gula tebu) secara besar-besaran demi kepentingan ekspor.

Awalnya, produksi gula tebu tersebut ditujukan hanya untuk kepentingan ekspor. Namun, lambat laun produk gula pasir masuk ke masyarakat. Lama-kelamaan keberadaan gula aren tersingkirkan dari sebagian besar masyarakat digantikan oleh gula pasir.

Dari sini kita mengetahui bahwa pilihan masyarakat terhadap gula pasir bukan karena gula pasir merupakan pilihan yang lebih baik. Bahkan data yang saya paparkan sudah menunjukkan keunggulan gula aren lebih baik dibandingkan gula pasir. Selain itu, gula aren pernah menjadi pilihan utama oleh nenek moyang nusantara. Bukankah hal yang demikian yang seharusnya dilestarikan?

Kampanye Gula Aren, Hidupkan Pemanis Sehat

Secara tidak sadar, kita tentu pernah mengkonsumsi gula aren tanpa kita sadari. Gula ini  masih digunakan sebagai bahan pembuat makanan seperti kolak, rujak, dan kue. Pemanis sehat ini juga digunakan dalam minuman seperti bandrek, bajigur, dan minuman khas nusantara lainnya.

Dari sini kita mengetahui bahwa pilihan masyarakat terhadap gula pasir bukan karena gula pasir merupakan pilihan yang lebih baik. Bahkan data yang saya paparkan sudah menunjukkan keunggulan gula aren lebih baik dibandingkan gula pasir. Selain itu, gula aren pernah menjadi pilihan utama oleh nenek moyang nusantara. Bukankah hal yang demikian yang seharusnya dilestarikan?

Padahal, secara tidak sadar kita tentu pernah mengkonsumsi gula aren tanpa kita sadari. Gula ini  masih digunakan sebagai bahan pembuat makanan seperti kolak, rujak, dan kue. Pemanis sehat ini juga digunakan dalam minuman seperti bandrek,bajigur, dan minuman khas nusantara lainnya.

Tidak ada salahnya jika pembaca dan teman-teman blogger nusantara mulai mengkonsumsi gula aren sebagai pengganti gula pasir. Contohnya seperti saat membuat teh, kue, atau bahkan pengganti selai roti. Juga bisa dicampurkan dengan susu bubuk untuk memperkaya rasa. Saya pikir, tidak ada salahnya sedikit bereksperimen mencampur makanan lain dengan gula aren. Toh, sudah ada produsen dalam negeri yang memproduksi gula aren dalam bentuk bubuk, padat, maupun cair. Sehingga, kita dapat berkreasi lebih luas.

Nah, melihat fakta dan cerita di atas, apakah gula aren akan kembali menjadi ‘jagoan’ (andalan) masyarakat? Jawaban tentu ada di tangan para pembaca sekalian.

Ditandai: , ,