Seni Budaya Lokal Terpinggirkan?

Posted on Juni 6, 2014

0



Siang itu suasana sedang panas sekali di lampu merah. Penderitaan semakin terasa dengan banyaknya asap kendaraan bermotor. Penulis sedang berada di tengah kemacetan. Kalau biasanya di lampu merah akan banyak pengamen, pemandangan agak berbeda penulis temukan di salah satu kawasan kota Semarang. Di lampu merah ini tarian tradisional.

Kalau suasana mellow muncul, penulis mungkin berpikir begitu prihatin kepada kondisi budaya asli Indonesia tercinta. Padahal, sewaktu Indonesia di zaman kerajaan dulu, tari-tarian tradisional yang masih ada sampai sekarang menjadi konsumsi bangsawan dan keluarga kerajaan juga masyarakat secara luas. Namun, kerap terdengar di telinga maupun kita baca di berbagai artikel suara-suara yang menyatakan bahwa masyarakat digempur oleh lagu-lagu dan tarian-tarian asing. Sedangkan keberadaan budaya lokal tergempit dan kalah bersaing dengan budaya asing. Memang benar, sih. Tapi, kalau mau jujur, mengapa hal ini terjadi?

Media dan Pola Konsumsi Masyarakat Berubah
Coba kita perhatikan masyarakat kita secara luas. Pengalaman penulis, dulu sekitar tahun 2005, penjualan kaset musik bajakan sangat marak terjadi di kawasan sekitar pusat perbelanjaan ibukota. Begitu juga dengan toko musik orisinil. Malahan, penulis ingat betul, di sekitar waktu tersebut, sekalipun teknologi CD music sudah tersedia, komposisi penjualan CD dan kaset musik di etalase toko langganan cukup seimbang. Di beberapa tempat bahkan komposisi kaset masih jauh lebih banyak. Namun, seiring waktu berjalan, penjualan kaset mulai menghilang dari peredaran. Hanya beberapa tempat yang masih menyediakan penjualan kaset. Lama-kelamaan, penjualan CD music-pun sekarang tidak semarak dahulu. Karena sekarang lebih marak mengkonsumsi musik dalam format digital MP3.

Kalau diperhatikan, cara masyarakat menikmati hiburan terus berubah. Media digital yang kita kenal secara luas sekarang pun diperkirakan akan mengalami perubahan juga. Sekarang, sejalan dengan meningkatnya kecepatan koneksi internet (walaupun di Indonesia kemewahan ini sulit dinikmati kalangan luas), media streaming mulai menunjukkan peningkatan angka pengguna. Layanan musik streaming seperti xxxxx, mulai berjamuran. Salah satu alasan para pemegang kepentingan menggalakkan fenomena ini juga untuk memerangi pembajakan. Harapannya, di masa yang akan datang, masyarakat dapat menikmati konten seperti musik, video, dan buku elektronik secara legal, menghormati hak intelektual si pencipta.

Lalu, apa hubungan dua paragraf di atas dengan budaya tradisional? Menurut pengamatan penulis, media untuk menyalurkan budaya lokal tradisional tidak berkembang. Kebanyakan masih dalam bentuk Video Compact Disc (VCD). Contohnya, kita masih mudah menemukan video tarian dan musik tradisional dalam bentuk CD yang kerap di jual di pinggir-pinggir jalan. Lalu coba Anda cari di iTunes store, adakah?

Padahal, jujur saja, siapa yang mau repot-repot meng-rip CD musik ke format mp3 agar dapat dinikmati di telepon seluler misalnya.  Atau, siapa pula yang ingin mengkonversi format video CD ke format yang didukung smartphone pribadi. Selain merepotkan, tidak semua pengguna familiar dengan cara ini.

Mungkin, terlampau jauh jika penulis menggunakan iTunes store sebagai salah satu pertimbangan. Namun, jika penulis menggunakan salah satu penyedia layanan konten digital di Tanah Air pun, tidak terdapat video tari-tarian tradisional yang dapat dikonsumsi.

Kalaupun pihak yang berkepentingan mengatakan,”ah, belum tentu ada orang yang mau membeli”. Menurut penulis, pendapat ini kurang tepat. Mengapa? Jika kita mau memperhatikan sejenak, jarang terdapat genre musik tradisional pada layanan musik online hingga tulisan ini dibuat. Padahal, jika ada, pasti ada segelintir orang yang mau iseng-iseng klik. Kalau kebetulan pengguna kepincut dengan konten tersebut, bukankah itu sudah mengarah pada peluang bisnis? Terlebih dengan maraknya suara-suara di media sosial untuk kembali menghidupkan budaya lokal yang notabene banyak disuarakan oleh sebagai generasi muda (di samping isu pemanasan global, aksi-aksi sosial, dan cerita-cerita inspiratif yang kerap kali penulis temukan di laman facebook pribadi).

Terakhir, alasan pembajakan. Mungkin sebagian dari kita akan berpikir bahwa mencari konten digital budaya lokal akan sangat mudah dicari di Internet, mungkin dari Youtube atau dari layanan file sharing. Penulis kurang setuju dengan pendapat ini. Ketersediaan konten-konten tersebut tidak semuanya serta-merta mudah didapatkan dengan mencari di situs-situs seperti itu. Pernah membaca mengenai sejarah kepopuleran iTunes store sebagai toko musik yang menyelamatkan industri musik dunia?

Dalam bukunya yang berjudul Steve Jobs, Walter Isaacson menjelaskan secara panjang lebar kondisi industri musik di negeri paman sam mengenai peredaran musik bajakan. Saat itu, situs-situs layanan musik ilegal meningkat pesat. Kondisi penjualan CD di Amerika Serikat sendiri saja menurun tajam. Sebelum ada iTunes store, pemilik iPod harus mencari musiknya sendiri, entah itu dari toko musik CD, situs ilegal file sharing, maupun CD musik bajakan. Segera saja, setelah iTunes store diluncurkan, pembelinya langsung melonjak. Konsumsi musik legal meningkat pesat di Amerika Serikat. Selain karena kemudahan yang ditawarkan, hal ini juga karena Steve melihat pola konsumsi musik masyarakat yang cenderung hanya menyukai beberapa lagu saja dalam sebuah album musik. Sebelum ada iTunes store, sudah menjadi rahasia umum di kalangan penikmat musik, bahwa hanya untuk mendengarkan sebuah musik yang mereka sukai dalam sebuah album, mereka harus membeli satu album utuh. iTunes store memungkinkan konsumen untuk dapat membeli sebuah lagu secara individual maupun satu album secara penuh.

Di sini, penulis ingin menekankan bahwa sangat penting untuk melihat pola konsumsi masyarakat dalam menikmati hiburan. Untuk itu, selain berupaya mengenal mengenai budaya sendiri, penulis berharap Anda para pembaca, terutama para pemegang kepentingan budaya lokal tanah air untuk dapat duduk bersama. Mengatasi krisis penikmat budaya lokal, agar dapat terus diwariskan kepada anak dan cucu tercinta nantinya.

Posted in: Pribadi