Crowd Investing : Fenomena Investasi Online

Posted on November 23, 2014

0


WP_20141123_003


Selama ini, investasi sering dianggap sebagai “mainan” kelompok masyarakat kelas atas untuk mempertahankan kekayaan mereka di masa yang akan datang. Namun, hal ini sepertinya mulai menunjukkan perubahan.

Sejak teknologi informasi hadir di tengah masyarakat, banyak perubahan yang terjadi. Cara masyarakat berkomunikasi berubah menjadi lebih terdigitalisasi. Begitu pula cara masyarakat membayar tagihan, belajar, bermain. Semuanya berubah dengan pesat akibat kemajuan teknologi informasi. Perubahan demikian tak terkecuali juga dialami oleh sektor investasi. Kini, dengan teknologi, masyarakat awam dapat membeli saham perusahaan start-up melalui platform crowd investing atau crowd funding.

Tunggu dulu, apa itu perusahaan start-up? Perusahaan start-up adalah sebuah kerjasama atau organisasi sementara yang dibuat untuk menemukan skala model bisnis yang sesuai. Perusahaan ini adalah perusahaan yang baru didirikan yang masih dalam suatu fase pengembangan dan penelitian pasar. Jadi, perusahaan ini umumnya belum dapat memberikan jaminan keberhasilan berlangsungnya bisnis dan belum memiliki reputasi yang memadai dibandingkan dengan perusahaan yang lain yang telah lama berdiri dan memiliki banyak konsumen.

Lalu, mengapa masyarakat awam ada yang mau membeli saham perusahaan start-up? Bukankah terlalu berisiko untuk berinvestasi pada perusahaan yang belum memiliki reputasi? Nah, di sinilah menariknya berinvestasi pada bisnis start-up. Walaupun dana yang di-investasikan berisiko hilang (misalnya karena perusahaan bangkrut), namun investasi yang dilakukan juga berpeluang besar untuk dapat menguntungkan. Hal ini jika produk yang ditawarkan perusahaan tersebut mengalami booming di kalangan masyarakat.

Salah satu contoh perusahaan yang booming dengan sangat cepat adalah Facebook. Pemiliknya sendiri bahkan juga tidak menyangka bahwa website miliknya dikunjungi oleh masyarakat dunia. Facebook, oleh Mark Zuckerberg, yang tadinya hanya dimaksudkan untuk dapat menghubungkan mahasiswa dari beberapa universitas ternama di Amerika Serikat, sekarang menjadi website dan perusahaan bernilai 104 milliar dollar AS (per 18 Mei 2012), jauh lebih tinggi dari perusahaan sekelas Kraft, Disney, dan McDonald’s.

Membeli Saham, Membeli Perusahaan

Perlu diketahui, fenomena crowd investing merupakan skema di mana masyarakat umum dapat membeli saham secara online. Jika seorang investor membeli saham itu bukan berarti ia  meminjamkan uangnya untuk  mendapatkan bunga atau mendonasikan uangnya untuk mendapatkan benefit tertentu, melainkan ia membeli sebagian dari perusahaan itu. Artinya, sekecil apapun nilai saham yang ia beli, maka ia turut menjadi salah satu pemilik perusahaan tersebut. Namun, semakin kecil porsi saham yang ia beli, tentu semakin kecil pula keuntungan yang ia dapat dari perusahaan tersebut.

Investor yang tertarik untuk berinvestasi pada crowd investing ini dapat dapat memilih platform investasi yang banyak tersedia di internet, di antaranya adalah Crowdcube, InvestingZone, SyndicateRoom, Crowdfunder dan CircleUp. Hingga saat ini, sekitar 30 platform crowdfunding atau crowdinvestning di Inggris telah menarik investasi senilai 100 juta euro dengan pertumbuhan tiap tahun 201%, sedangkan di Amerika Serikat nilainya mencapai lebih dari 5 miliar dollar AS (sekita 3 miliar euro).

Demokratisasi Investasi

Fenomena crowd dapat dikatakan sebagai sebuah demokratisasi investasi. Karena cara berinvestasi seperti ini membuka kemungkinan bagi siapa saja yang ingin melakukan investasi. Contohnya Crowdcube, salah satu platform crowd investing, telah menarik investasi senilai 45 juta euro untuk 160 bisnis dari 100.000 lebih investor yang terdaftar. Sebagai perbandingan, jika nilai investasi di sebuah perusahaan biasanya sekitar 3.000 euro, nilai investasi melalui Crowdcube berkisar antara 10 hingga 400.000 euro.

Crowd investing juga memungkinkan orang untuk lebih dapat mengontrol investasinya. Setelah seseorang mendaftar dan mengunduh aplikasi crowd investing, ia dapat melihat daftar pilihan investasi, mengunduh detail dan rencana bisnis, menanyakan sesuatu, berbicara secara langsung dengan pemilik bisnis, dan berbagi ide dengan investor lain melalui forum online.

Berbeda dengan investasi tradisional yang selama ini kita kenal, membeli saham melalui platform crowd investing tidak dikenakan biaya tambahan. Sedangkan, investasi tradisional akan melibatkan banyak biaya seperti biaya untuk broker, manajemen investasi, dan biaya persetujuan. Pada platform ini, perusahaanlah yang akan dikenai biaya sebesar 5% hingga 7.5%  dari dana yang berhasil terkumpul. Contohnya InvestingZone yang mengenakan biaya sebesar 5% kepada perusahaan. Sejak diluncurkan pada 2013, InvestingZone telah memiliki 9 entitas bisnis terdaftar dengan investasi sebesar 10 juta euro.

Mendulang Uang Dengan Mudah

Melalui skema ini, perusahaan akan diuntungkan karena mereka bisa memperoleh pendanaan yang mungkin tidak bisa didapatkan dengan mudah.

Sebagai contoh, perusahaan salad yang berbasis di London bernama Righteous tidak memperoleh pinjaman dari bank. Akhirnya, Righteous berhasil memperoleh 75.000 euro melalui Crowdcube dan dananya digunakan untuk memasang iklan di televisi. Iklan tersebut menarik perhatian banyak orang dan akhirnya perusahaan tersebut memperoleh investasi lagi sebesar 150.000 euro untuk menggenjot produksi.

Iklan pertama Righteous menggunakan investasi yang dikumpulkan melalui Crowdcube

Contoh lainnya adalah NearDesk, perusahaan yang bergerak di bidang penyewaan tempat kerja yang berbasis di Inggris. Perusahaan ini berhasil menarik investasi senilai satu juta euro melalui Seedrs yang setara dengan 22.56% porsi saham.

Berisiko Tinggi

Walaupun terlihat sangat bersahabat, namun Financial Conduct Authority (FCA), sebuah badan keuangan pemerintah Inggris, melihat crowdfunding sebagai investasi berisiko tinggi. Bagaimanapun juga, terdapat resiko investor kehilangan seluruh uangnya, terutama jika perusahaan gagal memperoleh keuntungan atau bangkrut. Selain itu, investor tidak dapat serta merta menjual sahamnya kepada orang lain jika suatu saat membutuhkan uang tersebut. Hal ini karena investasi tidak dilakukan pada perusahaan yang tidak terdaftar di pasar saham. Sehingga jumlah calon pembeli tidak banyak.

Walaupun begitu, ada pula perusahaan yang mengkhususkan dirinya untuk penjualan saham perusahaan start-up tersebut, contohnya Asset Match. Perusahaan ini menyediakan sistem pemasaran online atas saham yang dibeli melalui skema crowd investing melalui pelelangan. Pemilik saham akan memasang harga atas saham mereka, selanjutnya para pembeli akan bersaing secara lelang untuk dapat memiliki saham tersebut.

Pendiri Asset Match berpendapat, potensi nilai investasi pada banyak perusahaan yang belum terdaftar sebesar 300 miliar euro. Sehingga, kehadiran Asset Match pasti akan dibutuhkan para investor yang ingin menjual asetnya.

Setelah dua tahun berdiri, Asset Match telah memiliki 21 perusahaan terdaftar dan mengenakan biaya pada pembeli dan penjual sebesar 3% nilai transaksi. Dan untuk ke depannya, pasar saham seperti ini diharapkan akan diikuti oleh lebih banyak lagi perusahaan start-up hingga mencapai skala sebesar pasar saham tradisional.

Posted in: Bisnis, Tekno