Apa Yang Dimaksud Kota Pintar (Smart City)?

Posted on November 25, 2014

2



Akhir-akhir ini, sebagian dari Anda mungkin pernah membaca atau mendengar mengenai Smart City atau Kota Pintar. Namun, mungkin sebagian dari kita akan bertanya-tanya, apa yang dimaksud dengan kota pintar?

Pertanyaan di atas tentu agak sulit untuk dijawab, apalagi untuk benda mati seperti kota. Bukankah kota itu berisi jalan, jembatan, dan bangunan fisik yang notabene benda mati? Bagaimanana mungkin bisa muncul ungkapan ‘kota pintar’?

Menurut wikipedia berbahasa inggris, kota pintar/smart city (atau bisa disebut dengan smarter city) menggunakan teknologi digital untuk meningkatkan kinerja dan kesejahteraan, mengurangi biaya dan konsumsi sumber daya. Sektor kunci yang dicakup oleh kota pintar meliputi transportasi, energi, kesehatan, air bersih, dan manajemen limbah. Kota pintar harus dapat menjawab tantangan lokal dan global dengan lebih cepat.

Berdasarkan pengertian di atas, kota pintar memiliki keunggulan dalam mengatasi masalah dan menjawab tantangan sebuah kota, baik tantangan lokal maupun global. Permasalahan lokal sebuah kota, dapat berbeda dengan kota lainnya. Misalnya, kota Jakarta bermasalah akan polusi dan kemacetan sehingga perlu dipasang sensor elektronik dan analisis data untuk mengatasinya. Sedangkan, kota Jakarta kurang ramah lingkungan sehingga perlu dibangun lebih banyak ruang terbuka hijau dan shelter peminjaman sepeda. Salah satu program shelter peminjaman sepeda telah dilakukan di kota Bandung, Jawa Barat.

Beberapa kota di dunia telah dirancang dengan konsep ini, contohnya kota Songdo di Korea Selatan. Kota itu memiliki infrastruktur berteknologi tinggi. Selain itu, ada pula kota hijau Masdar di Uni Emirat Arab. Bahkan, beberapa kota dari negara-negara yang kurang maju punya beberapa aspek kota pintar. Contohnya kota Dar es Salaam di Tanzania yang dapat memonitor urbanisasi dengan aplikasi seperti OpenStreetMap. Selain itu ada pula program pemukiman pintar di perbatasan kota Cape Town (Afrika Selatan) dimana rumah penduduk menggunakan panel surya dan smart meter. Ini yang menarik. Penggunaan smart meter pada rumah memungkinkan penduduk untuk menjual listrik berlebihan tak terpakai yang dihasilkan panel surya mereka ke jaringan listrik yang ada.

Salah satu negara yang ingin menjadi pemimpin dunia dalam implementasi kota pintar adalah Inggris. Untuk memulai program kota pintarnya, tahun lalu pemerintah Inggris mengadakan kompetisi kota pintar di Inggris. Kompetisi itu menghasilkan kota Glasgow sebagai pemenang uang sebesar 25 juta poundsterling. Uang itu harus digunakan pemerintah kota untuk belanja perangkat teknologi kota pintar.

Namun, apakah kota Glasgow dapat dikatakan sebagai kota pintar? Glasgow dikenal memiliki banyak permasalahan sosial dan merupakan kota dengan angka harapan hidup paling rendah di antara kota-kota di Inggris. Walaupun demikian, setidaknya Glasgow telah keluar sebagai pemenang. Sebagian dari uang hadiah itu mungkin akan digunakan untuk menganalisis data untuk menjawab tantangan Glasgow. Uang itu juga dapat dipergunakan untuk  meningkatkan efisiensi energi dengan pengaturan jalur lintas terkomputerisasi untuk transportasi umum.

Kenyataannya, setengah dari uang yang dimenangkan Glasgow telah digunakan untuk membangun gedung pusat kendali lalu lintas yang penuh dengan layar LCD yang dipantau oleh polisi, pengatur lalu lintas, dan layanan darurat. Hal ini penting untuk mengatasi kejahatan yang terjadi. Glasgow juga telah memperbaharui sistem kamera pengintainya/CCTV dengan 400 kamera beresolusi tinggi dan membiayai penelitian untuk memprediksi kejahatan dengan analisis data. Selain itu, kota ini juga menginvestasikan sebagian dana untuk sistem penerangan yang cerdas untuk mengurangi tagihan listrik kota. Bahkan, Glasgow akan menggunakan sebagian uang tersebut untuk membuka beberapa data kota yang dapat diakses publik dan telah mempuat aplikasi di mana penduduk dapat melaporkan permasalahan seperti sampah dan jalan berlubang.

Aplikasi Digital Penghubung Masyarakat dengan Kotanya

Di sisi lain, juara runner-up kompetisi smart city Inggris, kota Bristol, memenangkan hadiah uang sebesar tiga juta poundsterling.

Bristol berencana membuka data pemerintah kota untuk dapat dimanfaatkan oleh berbagai layanan dan aplikasi, salah satu contohnya aplikasi HillsAreEvil. Aplikasi ini memberi informasi kepada warga kota, khususnya yang bergantung pada kursi roda, untuk memperoleh informasi lokasi dimana jalur yang dapat dilalui dengan mudah oleh kursi roda. Misalnya, aplikasi akan memberikan lokasi di mana terdapat jalan yang landai. Dewan kota juga akan membuka data mengenai inspeksi makanan. Sehingga, masyarakat bisa langsung melihat secara real-time rating restoran atau kafe tertentu.

Dalam hal energi, Bristol memiliki perusahaan energi terbarukan sendiri. Dengan dana investasi pinjaman dari European Investment Bank (EIB) perusahaan tersebut telah memasang banyak turbin angin dan 28.000 panel surya di rumah pelanggan. Hasilnya, Bristol juga memenangkan European Green Capital 2015.

Bristol dikenal sebagai kota ramah bersepeda

Dalam hal komunikasi, dewan kota Bristol telah memasang fiber optik yang menghubungkan sekolah, pusat komunitas, dan bisnis. Harapannya, akan ada perusahaan berteknologi tinggi yang akan memanfaatkan jaringan tersebut. Bahkan, karena saking tingginya kecepatan yang ditawarkan, dewan kota menantang pihak swasta untuk menguji kemampuan jaringan itu sehebat mungkin.

Kota Pintar Juga Kota Yang Menyenangkan

Ada hal lain yang cukup menarik di samping hal-hal di atas, kota Bristol membuat beberapa hal yang cukup menghibur dengan memanfaatkan teknologi. Hal ini dilakukan untuk mematahkan anggapan orang bahwa kota pintar hanya tentang efisiensi. Salah satu hal yang ditawarkan adalah Shadowing.

Shadowing, yang merupakan ide pemenang Playable Cities Awards, merupakan sebuah konsep di mana para pejalan kaki dapat melihat jejak bercahaya dari orang lain yang melewati jalan yang sama pada waktu sebelumnya (beberapa hari atau minggu sebelumnya).

Kesimpulan

Melihat berbagai pendekatan kota untuk menuju kota pintar, rasanya tidak ada syarat pasti supaya sebuah kota bisa menjadi kota pintar. Sebagian memilih membangun pusat kontrol, sedangkan yang lain membangun jaringan fasilitas berteknologi tinggi. Intinya, sampai pada saat itu terjadi, hendaknya kita turut berkontribusi untuk mempercepat implementasi konsep ini di kota di mana kita tinggal. Dengan demikian, kota kita dapat makin baik dalam menjawab tantangan dalam memenuhi kebutuhan warganya.

Ditandai:
Posted in: Tekno